SOFTSKILL
PSIKOLOGI MANAJEMEN
Nama : Rindang Sekar Pangayom
NPM : 19514428
Kelas : 3PA19
PENDAHULUAN
Setiap
seseorang yang bekerja pada suat perusahaan atau dalam instansi manapun pasti
seorang pekerja tersebut mempunyai kemampuan sendiri pada bidangnya
masing-masing. Tetapi seseorang tidak mesti terpaku atas satu pekerjaan saja
karena kemampuannya hanya dibidang tersebut, terkadang seorang pekerja harus
dituntut untuk bisa mengerjakan pekerjaan lain. Oleh karena itu untuk
pembahasan materi kali ini akan membahas tentang Job Enrichment, karena job
enrichment adalah cara utuk memotivasi karyawan dengan cara memberikan
kesempatan pada karyawan tersebut untuk menggunakan segala kemampuan yang
mereka miliki untuk bekerja.
I.
TEORI
JOB
ENRICHMENT
A. Definisi Job Enrichment
Job
enrichment adalah cara untuk memotivas karyawan dengan cara memberikan
kesempatan pada karyawan tersebut untuk menggunakan segala kemampuan yang
mereka miliki untuk bekerja. Job enrichmet pertama kali dikembangkan oleh
psikolog Amerika. Landy (1989) mengatakanbahwa job enrichment bisa merugikan
pekerja yang telah terstimulasi secara optimal dalam pekerjaannya. Pekerja yang
telah optimal seperti ini akan mengalam
overstimulasi jika pekerjaannya disertakan dalam program job enrichment. Job
enrichment sangat cocok diterapkan,lebih baik lagi jika program job enrichment
digabungkan dengan penetapan target, sehingga target yang sudah ditetapkan
dapat direncanakan sesuai dengan pekerjaan yang telah melalui program job
enrichment.
B. Langkah-langkah Job Enrichment
salah satu faktor kunci dalam design pengayaan pekerjaan (job enrichment)
menurut Stephen P. Robbins (2003), sebagai berikut:
1.
Menggabungkan Tugas
Gabungan berbagai
bentuk aktivitas kerja untuk memberikan yang lebih menantang dan kompleks pada
tugas pekerjaan. Hal ini memungkinkan pekerja untuk menggunakan berbagai macam
keterampilan, variasi tugas yang dapat membuat pekerjaan terasa lebih bermakna
dan penting. Hal ini meningkatkan keanekaragaman dan identitas tugas.
2. Menciptakan
Unit Kerja Alami
Salah satu cara
memperkaya pekerjaan adalah melalui pembentukan unit kerja yang alami dimana
pegawai mendapatkan kepemilikan pekerjaan. Unit kerja berarti bahwa tugas
pekerja dilakukan sama, mengartikan dan mengidentifikasi seluruhnya. Kenaikan
pekerjaan pada setiap pekerja menunjukkan kemungkinan bahwa pekerja akan
meninjau pekerjaannya yang berarti dan penting yang tidak begitu relevan dan
membosankan.
3. Menampilkan Hubungan Pelanggan
Pekerja sangat jarang
kontak dengan pengguna produk ataupun jasanya. Jika hubungan tersebut dapat
dibangun, komitmen kerja dan motivasi biasanya akan meningkat. Hal ini
meningkatkan keanekaragaman otonomi, dan umpan balik bagi karyawan.
4. Memperluas Pekerjaan Vertikal
Ketika kesenjangan
(gap) antara “melakukan” dan “mengontrol” dikurangi “vertical loading” terjadi,
khususnya tanggung jawab yang sebelumnya merupakan tanggung jawab manajemen
sekarang didelegasikan kepada pegawai sebagai bagian dari pekerjaan mereka.
Ketika pekerjaan dibebani secara vertikal, otonomi naik, pekerja merasa tanggung
jawab personal dan akuntabilitas untuk outcomes/dampak dari usaha mereka.
5. Membuka Saluran Feedback
Dengan meningkatkan
umpan balik, pekerja tidak hanya belajar bagaimana sebaiknya mereka menyamakan
pekerjaannya, tetapi hanya dengan memeperbaiki kinerja mereka, memperburuk atau
mengulang pada tingkat yang tetap. Idealnya umpan balik ini menyangkut kinerja
yang dapat diterima langsung seperti pekerja melakukan pekerjaannya dan perlu
kebiasaan dasar manajemen.
II.
KASUS
Seorang
teknisi yang biasa menangani mesin biasa, ditugaskan untuk menangani mesin baru
yang lebih kompl
III.
ANALISIS
Seorang
teknisi mesin tersebut biasanya menangani mesin-mesin biasa, mesin yang
ringan-ringan. Tetapi ketika perusahannya mempunyai mesin barus, mesin besar
yang kegunannya lebih kompleks, teknisi tersebut dituntut untuk bisa menguasai
mesin baru tersebut. Maka mau tidak mau dia harus belajar dan berusaha keras
untuk mengerti cara kerja mesin tersebut, agar nantinya saat dia menggunakan
mesin tersebut tidak ada kesalahan dalam pemakaian. Hal itu juga bisa menjadi
motivasi bagi teknisi tersebut untuk bisa mengembangkan kemampuannya dalam
dunia mesin.
REFERENSI
As’ad,M.(1995). Seri
Umum Sumber Daya Manusia:Psikologi
Industri.Yogyakarta: Liberty.
Munandar,Ashar Sunyoto. (2001). Psikologi
Industri dan Organisasi.Jakarta:
Universitas Indonesia (UI-Press).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar