TUGAS
INDIVIDU
ILMU
BUDAYA DASAR
NAMA
: RINDANG SEKAR PANGAYOM
NPM
: 19514428
KELAS
: 1PA18
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2014
/ 2015
BAB
VI
MANUSIA
DAN PENDERITAAN
1. Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata dasar derita.
Sementara itu kata derita merupakan serapan dari bahasa sansekerta, menyerap
kata dhra yang memiliki arti menahan atau menanggun. Jadi dapat diartikan
penderitaan merupakan menanggung sesuatu yang tidak meyenakan. Penderitaaan
dapat muncul secara lahiriah, batiniah atau lahir-batin. Penderitaan secara
lahiriah dapat timbul karena adanya intensitas komkosisi yang mengalami
kekurangan atau berlebihan, seperti akibat kekurangan pangan menjadi kelaparan,
atau akibat makan terlalu banyak menjadi kekenyangan, tidak dapat dipungkiri
keduanya dapat menimbulkan penderitaan. Adapula kondisi alam yang ekstrem,
seperti ketika terik matahari membuat kepanasan, atau saat kehujanan membuat
kedinginan. Ada pula penderitaan yang secara lahiriah seperti sakit hati karena
dihina, sedih karena kerabat meninggal, putus asa karena tidak lulus ujian.
Atau penyesalan karena tidak melakukan yang diharapkan. Sementara yang
lahir-batin dapat muncul dikarenakan penderitaan pada sisi yang satu berdampak
pada sisi yang lain atau dengan kata lain penderitaan lahiriah memicu
penderitaan batiniah atau sebaliknya. Misal akibat kehujanan badan menjadi
kedinginan namun tidak ada tempat berteduh akibatnya mendongkol, risau atau
menangis. Ada pula karena putus asa tidak lulus ujian menjadi tidak mau makan
dan menimbulkan perut sakit. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, dari
yang terberat hingga ringgan. Persepsi pada setiap orang juga berpengaruh
menentukan intensitas penderitaan. Suatu kejadian dianggap penderitaan oleh
seseorang belum tentu dianggap penderitaan bagi orang lain. Dalam artian suatu
permasalahan sederhana yang dibesar-besarkan akan menjadi penderitaan mendalam
apabila disikapi secara reaksioner oleh individu. Ada pula masalah yang sangat
urgen disepelekan juga dapat berakibat fatal dan menimbulkan kekacauan kemudian
terjadi penderitaan. Manusia tidak dapat mengatakan setiap situasi masalahnya
sama, penderitaanya sama solusinyapun sama. Penderitaan bersifat universal
dapat datang kepada siapapun tidak peduli kaya maupun miskin, tua maupun muda.
Penderitaan dapat muncul kapanpun dan dimanapun. Semisal saat seminar di siang
hari, suasana pengap, ada kipas anginpun masih kipas-kipas membayangkan ruang
ber AC, dan pulang tidur merentangkan badan di kasur empuk. Atau makan buah
segar dan minum air dingin. Namun pasien rumah sakit di ruang VIP, tidur di
kasur empuk ruang ber-AC, banyak buah segar dan air segar di kulkas, merasa
tidak betah dan ingin cepat pulang. Ada lagi orang yang tidak mempunyai uang
merasa menderita tidak dapat wisata saat liburan, namun ada pula orang yang
berpergian membawa uang banyak tanpa bekal hendak liburan ternyata mobil mogok
di daerah yang jauh dari permukiman, dan saat makan siang tiba, rasa lapar
mulai muncur, ternyata uang tidak dapat menolong dari penderitaan karena tidak
ada barang yang bisa di beli, terlebih muncul rasa gengsi atau keegoisan
penumpang lain menambah penderitaan. Penderitaan merupakan realita kehidupan
manusia di dunia yang tidak dapat dielakan. Orang yang bahagia juga harus siap
menghadapi tantangan hidup bila tidak yang muncul penderitaan. Dan orang yang
menghadapi cobaan yang bertubi-tubi harus berpengharapan baik akan mendapatkan
kebahagian. Karena penderitaan dapat menjadi energi untuk bangkit berjuang
mendapatkan kebahagian yang lalu maupun yang akan datang. Akibat penderitaan
yang bermacam-macam manusia dapat mengambil hikmah dari suatu penderitaan yang
dialami namun adapula akibat penderitaan menyebabkan kegelapan dalam kehidupan.
Sehingga penderitaan merupakan hal yang bermanfaat apabila manusia dapat
mengambil hikmah dari penderitaan yang dialami. Adapun orang yang
berlarut-larut dalam penderitaan adalah orang yang rugi karena tidak melapaskan
diri dari penderitaan dan tidak mengambil hikmak dan pelajaran yang didapat
dari penderitaan yang dialami. Penderitaan juga dapat "menular" dari
seseorang kepada orang lain. Misal empati dari sanak-saudara untuk membantu
melepaskan penderitaan. Atau sekedar simpati dari orang lain untuk mengambil
pelajaran dan perenungan. Contoh gamblang penderitaan manusia yang dapat
diambil hikmahnya diantaranya tokoh filsafat ekistensialisme Kierkegaard
(1813-1855) seorang filsafat asal Denmark yang sebelum menjadi filsafat besar,
sejak masa kecil banyak mengalami penderitaan. Penderitaan yang menimpanya,
selain melankoli karena ayahnya yang pernah mengutuk Tuhan dan berbuat dosa
melakukan hubungan badan sebelum menikah dengan ibunya, juga kematian delapan
orang anggota keluarganya, termaksud ibunya, selama dua tahun berturut-turut.
Peristiwa ini menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi Soren Kierkegaard, dan
ia menafsirkan peristiwa ini sebagai kutukan Tuhan akibat perbuatan ayahnya.
Keadaan demikian, sebelum Kierkegaard muncul sebagai filsuf, menyebabkan dia
mencari jalan membebaskan diri (kompensasi) dari cengkraman derita dengan jalan
mabuk-mabukan. Karena derita yang tak kunjung padam, Kierkegaard mencoba
mencari “hubungan” dengan Tuhannya, bersamaan dengan keterbukaan hati ayahnya
dari melankoli. Akhirnya ia menemukan dirinya sebagai seorang filsuf
eksistensial yang besar. Penderitaan Nietzsche (1844-1900), seorang filsuf
Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu sering sakit, lemah, serta kematian ayahnya
ketika ia masih kecil. Keadaan ini menyebabkan ia suka menyendiri, membaca dan
merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi filsuf besar. Lain lagi dengan
filsuf Rusia yang bernama Berdijev (1874-1948). Sebelum dia menjadi filsuf,
ibunya sakit-sakitan. Ia menjadi filsuf juga akibat menyaksikan masyarakatnya
yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan. Sama halnya dengan filsuf
Sartre (1905-1980) yang lahir di Paris, Perancis. Sejak kecil fisiknya lemah,
sensitif, sehingga dia menjadi cemoohan teman-teman sekolahnya. Penderitaanlah
yang menyebabkan ia belajar keras sehingga menjadi filsuf yang besar. Masih
banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa penderitaan tidak selamanya
berpengaruh negatif dan merugikan, tetapi dapat merupakan energi pendorong
untuk menciptakan manusia-manusia besar. Contoh lain ialah penderitaan yang
menimpa pemimpin besar umat Islam, yang terjadi pada diri Nabi Muhammad.
Ayahnya wafat sejak Muhammad dua bulan di dalam kandungan ibunya. Kemudian,
pada usia 6 tahun, ibunya wafat. Dari peristiwa ini dapat dibayangkan
penderitaan yang menimpa Muhammad, sekaligus menjadi saksi sejarah sebelum ia
menjadi pemimpin yang paling berhasil memimpin umatnya (versi Michael Hart
dalam Seratus Tokoh Besar Dunia).
Dalam riwayat hidup Bhuda Gautama yang dipahatkan dalam bentuk relief Candi Borobudur, terlihat adanya penderitbn. Tergambar seorang pangeran (Sidharta) yang meninggalkan istana yang bergelimangan hata, memilih ke hutan untuk menjadi biksu dan makan dengan cara megembara di hutan yang penuh penderitaan. Riwayat tokoh tokoh besar di Indonesia pun dengan penderitaan. Buya Hamka mengalami penderitaany hebat pada masa kecil, hingga ia hanya mengecap sekolah kelas II. Namun ia mampu menjadi orang besar pada zamanya, berkat perjuangan hidup melawan penderitaan. Contoh lain adalah Bung Hata yang beberapa kali mengalami pembuangan namun pada akhirnya ia dapat menjadi pemimpin bangsanya.
Dalam riwayat hidup Bhuda Gautama yang dipahatkan dalam bentuk relief Candi Borobudur, terlihat adanya penderitbn. Tergambar seorang pangeran (Sidharta) yang meninggalkan istana yang bergelimangan hata, memilih ke hutan untuk menjadi biksu dan makan dengan cara megembara di hutan yang penuh penderitaan. Riwayat tokoh tokoh besar di Indonesia pun dengan penderitaan. Buya Hamka mengalami penderitaany hebat pada masa kecil, hingga ia hanya mengecap sekolah kelas II. Namun ia mampu menjadi orang besar pada zamanya, berkat perjuangan hidup melawan penderitaan. Contoh lain adalah Bung Hata yang beberapa kali mengalami pembuangan namun pada akhirnya ia dapat menjadi pemimpin bangsanya.
Ketika membaca kisah tokoh-tokoh besar tersebut, kita dihadapkan
pada jiwa besar, berani karena benar, rasa tangung-jawab, dan sebagainya. Dan
tidak ditemui jiwa munafik plin-plan, dengki, iri dan sebagainya.
Di bawah ini adalah beberapa contoh penderitaan yang
mungkin sering kita lihat di lingkungan kita:
1. Pemutusan hak
kerja : Bagi orang yang sudah berkeluarga mungkin penderitaan ini yang
paling di takutkan apalagi bagi seorang ayah yang mempunyai kewajiban menafkahi
keluarganya,hal ini akan berdampak buruk tidak hanya bagi sang ayah namun juga
bagi keluarganya
2. Kehilangan
orang tua : Hubungan kita dengan orang tua merupakan suatu hubungan yang unik.
Oleh sebab itu pasangan diharapkan bisa memahami makna kehilangan ini. Misalnya
dengan berusaha menggantikan posisinya demi mendukung pasangan. Antara lain
dengan cara selalu berada di dekatnya, menjadi pendengar yang baik, dan selalu
siap membantunya.
3. Kemiskinan : Dalam hal
ini mungkin semua orang menderita mengalami kemiskinan.namun miskin disini
bukan miskin melarat melainkan hidup pas-pasan.bagi sebagaian orang hidup
seperti itu tidak enak namun bagi orang lain mungkin hidup seperti itu lebih
baik dari pada berlimpah harta namun anggota keluarga tidak bahagia,semua di
atur oleh uang,sibuk dengan tugas masing”,tidak ada komunikasi.hal itu di
buktikan dengan adanya kata-kata ” makan ga makan yang penting kumpul”.
4. Bencana
: Tidak ada yang dapat menghindari sebuah bencana yang diberikan oleh
Allah SWT. Bencana yang datang dapat menghilangkan sebagian ataupun
seluruh harta benda yang ada, bahkan dapat mengakibatkan kehilangan anggota
keluarga. Trauma yang diakibatkan oleh bencana juga sulit untuk dipulihkan. Hal
ini membutuhkan banyak waktu untuk seseorang kembali bangkit dan hidup normal
dengan membangun kehidupannya seperti sedia kala.
2. Penderitaan dan Sebabnya
Sebab-sebab Timbulnya Penderitaan
1. Penderitaan
yang timbul karena perbuatan buruk manusia.
2. Penderitaan
yang timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan.
3. Pengaruh Penderitaan
Pengaruh yang Akan Terjadi pada Seseorang Jika
Mengalami Penderitaan Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh
pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa
sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena
tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan
dalam peribahasa “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, “nasi sudah
menjadi bubur”. Kelanjutan dari sikap negative ini dapat timbul sikap anti,
misalnya anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup. Sikap
positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan
rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan,
dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya
kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap
anti, misalnya anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin paksa; anti ibu
tiri, ia berjuang melawan sikap ibu tiri; anti kekerasan, ia berjuang menentang
kekerasan, dll.
4.
Studi
Kasus
Penderitaan,
media masa dan seniman adalah 3 hal yang tidak bisa dipisahkan. Penderitaan
hampir merata di permukaan bumi ini, banyak kasus – kasus penderitaan seperti
kelaparan, kemiskinan, dll. Semua informasi itu bisa kita peroleh dengan sangat
mudah seiring kemajuan zaman dan pengaruh globalisasi melalui media masa, baik
itu media cetak maupun media elektronik. Media cetak seperti Koran, majalah,
dan lain lain selalu menyajikan informasi – informasi terbaru setiap harinya.
Media elektronik pun demikian, seiring berkembangnya teknologi yang memudahkan
kita untuk menggali informasi sebanyak – banyaknya bukan hanya melalui siaran
radio dan televisi tapi kini kita bisa mengakses informasi melalui internet,
dll. Kehadiran smartphone dan gadget – gadget canggih lainnya yang berbasis
sitem operasi android dan ios pun turut menunjang kinerja media elektronik
untuk menyampaikan informasi terbaru. Seniman, mereka lah yang dapat
menggambarkan suasana hati dalam bentuk apapun, baik itu dalam visual maupun
audio. Visual seperti lukisan, wayang, dll. Sedangkan dalam audio mereka dapat
menuangkannya kedalam lirik lagu, puisi, dan lain lain. Tapi terkadang hasil
karya mereka dapat menimbulkan suatu kontroversi bahkan propaganda karena hasil
karyanya tidak bisa diterima oleh masyarakat yang menilainya karena adanya
perbedaan pendapat dll. Kelaparan adalah salah satu penderitaan global yang
hampir ada di setiap sudut – sudut Negara. Bukan hanya di Negara – Negara yang
tertinggal atau di dataran Afrika, tapi di Negara – Negara besar dan super
power pun masih dapat kita temukan orang orang yang kelaparan, baik itu
gelandangan, pengemis, dll. Sudah menjadi rahasia umum bahwa benua Afrika
adalah benua yang memiliki tingkat kelaparan paling besar di dunia. Penderita
gizi buruk dan busung lapar sudah menjadi pemandangan yang tidak asing disana.
Tidak ada makanan dan tidak ada air, yang ada hanyalah tanah yang tandus dan
gersang. Tanah pun mereka makan untuk mengganjal perut mereka tanpa
memperdulikan higientias seperti orang – orang pada umumnya. Tubuh mulai kurus
dan perut kian membuncit, itulah mereka yang hidup dalam penderitaan akibat
kelaparan yang hingga kini tidak ada solusinya. Hanya segelintir orang yang
berhati mulia yang mau menolong mereka dengan cara menjadi sukarelawan atau
hanya sekedar menyumbang uang kepada penyalur, dsb. Mari kita tengok Negara
kita tercinta ini, disebelah timur Indonesia hampir mengalami nasib yang sama
dengan saudara – saudara kita di Afrika. Padahal Negara kita dikenal sebagai
Negara yang sangat kaya, seperti yang dituliskan dalam suatu lirik lagu “ orang
bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman “. Tapi
nyatanya tidak semua daerah bisa mengolah sumber daya alamnya dengan baik,
bahkan kini pihak asinglah yang mengelola sumber daya alam kita. Suatu
kesalahan besar bangsa ini mempersilahkan orang asing mengolah sumber daya kita
karena ketidak mampuan kita untuk mengolahnya, lalu mereka membawa hasil bumi
kita ke negaranya dengan harga yang murah dan dijual dengan harga yang setinggi
– tingginya, sedangkan kita bisa lihat apa yang kita dapatkan dari hasil
kerjasama ini ? tidak ada. Yang ada hanyalah sumber daya alam yang terus
menipis dan kita menjual hasil bumi kita sendiri dengan harga yang mahal di
negeri sendiri, bukankah itu bodoh ? yang kita butuhkan hanyalah seorang
pemimpin yang dapat mengambil langkah tegas untuk mengubah Indonesia menjadi
bangsa yang mandiri dan tidak bergantung kepada bangsa lain yang sebenarnya
menipu kita. Selanjutnya adalah media masa, mereka yang paling berjasa dalam
memberikan informasi kepada semua orang. Tiap detik di hidup kita pasti ada
banyak peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, dan media masa akan berusaha
menginformasikan peristiwa tersebut kepada kita. Mulai dari radio, televisi,
hingga internet, mereka siap memberikan informasi – informasi terbaru khususnya
internet yang kini sudah tidak diragukan lagi kehadirannya. Hanya dengan
mengakses salah satu situs mesin pencari dan memasukan kata kunci yang akan
kita cari, maka dengan mudahnya kita mendapatkan informasi yang kita cari
berkat adanya internet. Dampak penggunaan internet sendiri pun beragam, ada yang
positif ada juga yang negatif. Semua itu tergantung kepada para pengguna,
bagaimana kita menyikapinya. Dampak positifnya adalah kita dapat memperoleh
informasi lebih mudah dan cepat daripada harus mencari sumber dari buku ataupun
narasumber yang akan diwawancara. Namun ada juga dampak negatifnya, dikarenakan
bebasnya
akses dan kurangnya keamanan, maka internet pun sering kali disalah gunakan.
Misalanya untuk mengakses situs – situs pornografi, bahkan anak kecil pun kini
sudah bisa mengakses situs – situs tersebut karena kurangnya keamanan dan
kurangnya perhatian dari orang tuanya. Seniman, kini orang hanya tahu kalau
seniman itu hanya sekedar penyanyi yang tampil di tv. Itu bukan seniman
sesungguhnya. Pelukis, dalang, penyair, mereka adalah seniman yang mampu
menuangkan apa yg ada disekelilingnya menjadi sebuah karya seni, entah itu
lukisan, sajak atau puisi, cerita wayang, lirik lagu, dll.
BAB
VII
MANUSIA
dan KEADILAN
1.
Arti keadilan
Menurut kamus umum bahasa indonesia susunan W.J.S
Poerwadarminta, kataadil berarti tidak berat sebelah atau memihak manapun tidak
sewenang-wenang. Sedangkan menurut istilah keadilan adalah pengakuan
dan perlakukan yang seimbang antara hak dan kewajiban.
v Keadilan
menurut aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia,Kelayakan
diartikan sebagai titik tengah diantara kedua
ujung ekstrem yangterlalu banyak dan terlalu sedikit.Kedua ujung
tersebut menyangkut dua orang atau benda. Dan kedua orangtersebut
atau kedua benda tersebut harus mepunyai porsi atau ukuran
yangsama itu yang dinamakan adil dan jika tidak seukuran itu namanya
ketidaladilan. Arti mudahnya keadilan adalah tidah berat sebelah atau bisa di
sebutdengan sama.Setiap kehidupan manusia dalam melakukan aktivitas nya pasti
pernahmengalami perlakuan yang tidak adil. Jarang sekali kita mengalami
perlakuanyg adil dari setiap aktivitas yang kita lakukan. Dimana setiap diri
manusia pasti terdapat suatu dorongan atau keinginan untuk berbuat jujur namunterkadang
untuk melakukan kejujuran itu sangatlah sulit dan banyak kendalanya yang harus
di hadapi, seperti keadaan atau situasi, permasalahan teknishingga bahkan sikap
moral.
v Menurut
Plato, keadilan merupakan proyeksi pada diri manusia sehinggaorang yang
dikatakan adil adalah orang yang mengendalika diri dan perasaanya
dikendalikan oleh akal.
v Menurut secorates, keadilan
merupakan proyeksi pada pemerintah
karena pemerintah adalah pemimpin pokok
yang menentukan dinamika masyarakat.Keadilan tercipta bilamana warga
negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya
dengan baik.
2.
Kejujuran
Jujur
atau kejujuran berati apa yang dikatakan seseorang sesuai denganhati nuranimya,
jujur berarti juga seseorang yang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan
yang dilarang agama dan hukum, untuk itu dutuntut satukata
dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama
dengan perbuatanya. Jujur berarti pula menepati janji atau menepati
sanggupan, baik yangtelah terlahir dalam kata-kata maupun apa yang masih di
dalam hati (niat).Jadi seseorang yang tidak menepati niatnya berarti mendustai
dirinya sendiri.Apabila niat itu terlahir dari kata-kata, padahal tidak di
tepati makakebohonganya di saksikan oran lain.Jujur memberikan keberanian dan
ketentraman hati, serta mensucikan,lagi pula membuat luhurnya budi pekerti.
Teguhlah pada kebenaran, sekalipunkejujuran dapat menikammu, serta jangan pula
mendusta, walaupun dustamu menguntungkan.
3.
Kekurangan
Kekurangan
atau curang identik dengan ketidak jujuran atau tidak jujur,dan sama pula
dengan licik, meskipun tidak serupa benar,. Curang ataukecurangan artinya apa
yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya,atau orang itu memang dari
hatinya sudah berbuat curang dengan maksudmemperoleh keuntungan tanpa bertenaga
dan berusaha.
Beberapa
faktor yang menimbulkan kecurangan, antara lain :
1. Faktor
ekonomiSetiap orang berhak hidup layak dan membahagiakan dirinya.Terkadang
untuk mewujudkan hal tersebut kita sebagai makhluklemah, tempat salah dan dosa.
Sangat rentan sekali dengan hal-hal pintas dalam merealisasikan apa yang
kita inginkan dan fikirkan.
2. Faktor
peradaban dan kebudayaanPeradaban dan kebudayaan sangat mempengaruhi
mentalitasindividu yaqng terdapat didalamnya “system kebudayaan” meski terkadang
hal ini tidak selalu mutlak. Keadilan dan kecuranganmerupakan sikap mental yang
menumbuhkan keberanian dansportifitas. Pergeseran moral saat ini memicu
terjadinya pergeserannurani, hamper pada setiap individu di dalamnya sehingga
sulit sekaliuntuk menentukan dan bahkan menegakkan keadilan.
3. Faktor
Teknis Hal ini juga menentukan arah kebijakan, bahkan keadilan itusendiri,
terkadang untuk bersikap adil kitapun mengedapankan
aspek perasaan dan kekeluargaan, sehingga sangat sulit sekali untukdilakukan,
atau bahkan mempertahankan kita sendiri harus melukai perasaan orang lain.
4.
Pemulihan
nama baik
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalahnama
yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar
namanya baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang atau tetangga
disekitarnyaadalah suatu kebagaan batin yang tak ternilai harganya. Penjagaan
nama baikerat hubunganya dengn keadaan tingkah laku atau perbuatan atau
bolehdikatakan bahwa baik atau tidak baik adalah tingkah laku atau perbuatanya.
Yang dimaksud tingkah laku dan perbuatan itu antara
lain :
cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, ramah tamah, disiplin pribadi, caramenghadapi
orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dansebagainya. Pada hakikatnya
pemulihan nama baik adalah kesadaran manusiaakan segala kesalahanya, bahwa apa
yang diperbuatnya tidak sesuai denganukuran moral atau tidak sesuai dengan
akhlak yang baik.
Untuk memulihkan nama baik, manusia harus tobat atau
meminta maaf.Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, mewlainkan harus
beratingkah lakuyang sopan, ramah, berbuat norma dengan memberikan kebajikan
dan pertolongan kepada sesama hidup yang perlu ditolng dengan kasih saying,tanpa
pamrih takwa kepada tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur,adil dan
budi luhur selalu di pupuk.
5.
Pembalasan
Pembalasan
adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itudapat berupa perbuatan
yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah lakuyang serupa, tingkah laku
yang seimbang. Pembalasan disebabkan olehadanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat
mendapat pembalasan
yang bersahabat. Sebaliknya pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah makhlukmoral
dan makhluk social. Dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk
mewujudkan moral itu.Bila manusia berbuat amoral, lingkungannyalah yang
menyebabkanya.Perbuatan amoral pada hakikatnya perbuatan yang melanggar atau
memperkosahak dan kewajiban manusia. Oleh karena itu manusia tidak menghendaki
hak dankewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia berusaha
mempertahankanhak dan kewajibanya itu. Mempertahakn hak dan kewajiban itu
adalah pembalasan.
6.
Ada
berbagai macam keadilan yaitu :
1. Keadilan
legal atau keadilan moral
Yaitu
merupakan subtansi rohani umum dari masyarakat yang mebuatdan menjadi
kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orangmenjalankan pekerjaan
yang menurut sifat dasamya paling cocok baginya(The man behind the gun).
Pendapat Plato itu disebut keadilan moral,sedangkan, Sunoto menyebutnya keadilan
legal.Keadilan timbul karna penyatuan dan penyesuaian untuk memberi
tempatyangselaras kepada bagian-hagian yang membentuk suatu masyarakat.Keadilan
terwujuddalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukanfungsinya
secara baik.
2. Keadilan
distributive
Yaitu
keadilan ini akan terlaksana apabila hal-hal yang samadilakukan secara sama dan
hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidaksama. (justice is done when equals
are treated equally). Sebagai contoh,Ali bekerja 10 tahun dan Budi bekerja 5 tahun.
Pada waktu diberikanhadiah harus dibedakan antara Ali dan Budi. yaitu perbedaan
sesuaidengan lamanya bekerja. Andaikata Ali menerima Rp. 100.000.- makaBudi
harus menerima.
3. Keadilan
komutatif
Yaitu keadilan ini merupakan
asa pertahun dan ketertiban dalammasyarakat. Keadilan ini bertujuan memelihara
ketertiban masyarakat dankesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian
keadilan itu merupakanasas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat Semua
tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan
menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
7.
Dampak
yang terjadi pada masyarakat
Dampak
positif dari keadilan itu sendiri dapat menghasilkan kreatifitas danseni
tingkat tinggi, karena ketika seseorang mendapat perlakuan yang tidak adilmaka
orang tersebut akan mencoba untuk bertanya atau melalukan perlawanan
“protes”
dengan caranya sendiri. Dan dengan cara itulah yang dapat menghasilkan
kreatifitas
dan seni tingkat tinggi seperti demonstrasi, melukis, menulis dalam bentuk
apapun.Sedangkan dampak negatif nya seperti protes oleh pihak yang kalah
denganmenggunakan kekerasan, arogan seperti pengrusakan fasilitas umum,
bahkanmemicu terjadinya tawuran karena adanya rasa dendam.
BAB
VIII
Manusia
dan Pandangan Hidup
Pengertian Pandangan Hidup dan
Ideologi
Setiap
manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati, Karena
itu ia menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa
arti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang
dijadikan pegangan, pedoman, arahan,, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau
pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman
sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Dengan
demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul sekita atau dalam waktu yang
singkat saja, melainkan melalui proses waktu lama dan terus-menerus, sehingga
hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat
diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia
menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk
yang disebut pandangan hidup.
Pandangan
hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya, akan tetapi pandangan hidup dapat
diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
1.
Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan yang mutlak
kebenarannya
2.
Pandangan hidup yang berupa idiologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan
norma yang terdapat pada negara tersebut
3.
Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya
Pandangan
hidup pada dasarnya mempunyai unsur-unsur yaitu ;
∗ Cita-cita
∗ Kebajikan
∗ Usaha
∗ Keyakinan /
kepercayaan
Keempat
unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan . cita-cita
aialah apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau
perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai ialah kebajikan, yaitu segala hal yang
baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai, tenteram. Usaha atau
perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan.
Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan
kepercayaan kepada Tuhan.
Cita-cita
Menurut
kamus umum bahasa Indonesia cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang
selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa
yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Dengan demikian cita-cita
merupakan pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan dating.
Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin
tinggi, dengan perkataan lain : cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan
tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.
Apabila
cita-cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu
disebut angan-angan. Disini persyaratan
dan kemampuan tidak/belum dipenuhi sehingga usaha untuk mewujudkan
cita-cita itu tidak mungkin dilakukan. Antara masa sekarang yang merupakan
realita dengan masa yang akan dating sebagai ide atau cita-cita terdapat jarak
waktu. Dapatkan seseorang mencapai apa yang dicita-citakannya tergantung dari 3
faktor; pertama factor manusia yang memiliki cita-cita, kedua kondisi yang
dihadapi selama mencapai apa yang dicita-citakannya dan ketiga seberapa
tinggikah cita-cita yang hendak dicapai.
Contohnya
yaitu : Ketika Kita ingin meraih cita-cita sebagai Programmer kita harus
Menguasai Ilmu dalam IT Tersebut dengan cara berusaha yaitu dengan Belajar
Sungguh-sungguh sehingga kita bisa Meraih Cita-cita Sebagai Programmer
Tercapai.
KEBAJIKAN
Kebajikan
atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama
dengan moral, perbuatan yang sesuai dengan normanorma agama, dan etika. Manusia
berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral. Atas
dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.
Kebajikan
atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan
moral, perbuatan yang sesuai dengan norma agama dan etika. Manusia berbuat baik
karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk yang bermoral dan beretika.
Atas dorongan suara hatinya cenderung manusia untuk berbuat kebaikan.
Manusia
adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Kedua unsur
terpisah bila manusia meninggal. Karena merupakan pribadi, manusia mempunyai
pendapat sendiri, ia mencintai diri sendiri, seringkali manusia tidak mengenal
kebajikan.
Untuk
melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi yaitu ;
∗ Manusia sebagai
makhluk pribadi
∗ Manusia sebagai
anggota masyarakat
∗ Manusia sebagai
makhluk Tuhan
Ada 3 hal faktor-faktor yang menentukan
tingkah laku setiap manusia, yaitu :
1.
Faktor pembawaan (heriditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih
dalam kandungan.
2.
Faktor lingkungan dimana mereka tinggal dan hidup dalam lingkungan yang baik
maupun tidak baik.
3.
Faktor pengalaman yang khas yang pernah dialami sewaktu dia mulai hidup dan
hingga sampai dewasa.
Usaha/perjuangan
Usaha
adalah kerja keras untuk mewujudkan cita – cita. Setiap manusia harus kerja keras
untuk melanjutkan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha/perjuangan,
perjuangan untuk hidup dan ini sudah kodrat manusia. Tanpa usaha/perjuangan
manusia tak dapat hidup sempurna. Apabila manusia ingin menjadi kaya, ia harus
kerja keras. Bila seseorang ingin menjadi ilmuwan, ia harus rajin belajar dan
mengikuti semua ketentuan akademik.
Kerja
keras itu dapat dilakukan denga otak/ilmu atau jasmani/tenaga, dan bisa juga
keduanya. Para ilmuwan lebih banyak bekerja keras dengan otak/ilmunya daripada
jasmani/tenaganya. Sebaliknya buruh bekerja keras dengan jasmani/tenaganya
daripada otaknya. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan menigkatkan harkat
dan martabat manusia. Pemalas membuat manusia itu miskin, melarat dan tidak
mempunyai harkat dan martabat. Karena itu tidak boleh bermalas – malasan,
bersantai – santai dalam hidup ini. Santai dan istirahat ada waktunya dan
manusia yang mengaturnya.
Dalam
agamapun diperintahkan untuk kerja keras, sebagaimana hadist yang diucapkan
Nabi Besar Muhammad S.A.W yang ditunjuk kepada para pengikutnya “Bekerjalah
kamu seakan-akan kamu hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu seakan-akan
kamu akan mati besok”.
Untuk
kerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan terbatas itulah
timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya.
Kemampuan itu terbatas pada fisik dan keahlian / ketrampilan. Orang bekerja
dengan fisik lemah memperoleh hasil sedikit, ketrampilan akan memperoleh
penghasilan lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai
ketrampilan / keahlian. Karena itu mencari ilmu dan keahlian / ketrampilan itu
suatu keharusan, Sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan sastra “Tuntutlah ilmu
dari buaian sampai liang lahat” dalam pendidikan dikatakan sebagai “Long life
education”.
Karena
manusia itu mempunyai rasa kebersamaan dan belas kasihan (cinta kasih) antara
sesama manusia, maka ketidak mampuan akan kemampuan terbatas yang menimbulkan
perbedaan tingkat kemakmuran itu dapat diatasi bersama-sama secara tolong menolong,
bergotong royong. Apabila sistem ini diangkat ketingkat organisasi negara, maka
negara akan mengatur usaha / perjuangan warga negaranya sedemian rupa, sehingga
perbedaan tingkat kemakmuran antara sesama warga negara dapat dihilangkan atau
tidak terlalu mencolok. Keadaan ini dapat dikaji melalui pandangan hidu
/idiologi yang dianut oleh suatu negara
Pengertian
Keyakinan/Kepercayaan
Keyakinan
/ kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup manusia adalah sebuah
pemikiran yang mendasar dan mendalam terhadap suatu hal yang kemudian di anut
untuk menjadi pedoman hidup mereka.Keyakinan / Kepercayaan itu sendiri berasal
dari akal atau kekuasaan tuhan. Sebuah akal yang berfikir tentang pedoman yang
di anut merupakan pemberian Allah yang kemudian di implementasikan di kehidupan
nyata. Keyakinan / kepercayaan itu sendiri nantinya akan membentuk sebuah
filsafat. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution ada tiga aliran filsafat, yaitu
aliran Naturalisme, aliran Intelektualisme, dan aliran Gabungan (Naturalisme
dan Intelektualisme).Aliran Naturalisme adalah hidup manusia itu dihubungkan
dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari
natur, dan itu dari Tuhan. Aliran Intelektualisme adalah dasar aliran ini
adalah logika / akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia
berpikir.Aliran Gabungan adalah dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga
akal. Kekuatan gaib Minya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya
Tuhan sebagai dasar keyakinan.
Mengenal.
Sebelum
seseorang meyakini sesuatu pastilah ia harus mengenal apa yang ia lihat
tersebut. Mengenal merupakan langkah awal dari berpandangan hidup yang baik di
karenakan dengan mengenal, kita pun akan dapat membedakan suatu hal yang baik
dan buruk menurut cara pandang kita sehingga kita tidak akan mengambil langkah
yang salah.
Mengerti
Tidak
cukup hanya dengan mengenal, kita harus mengerti tentang apa yang sedang kita
hadapi. Mengerti sebagai langkah lanjut dari mengenal. Mengenal di ibaratkan
hanya sebagai lapisan luar sedangkan jika kita ingin mengetahui lapisan
dalamnya, kita harus mengerti.
Menghayati
Setelah
kita mengenal dan mengerti suatu hal tersebut, maka langkah selanjutnya adalah
menghayati. Dengan menghayati kita dapat lebih jauh mengerti
Meyakini
Langkah
selanjutnya adalah meyakini. Meyakini dapat kita lakukan dengan memperdalam
rasa mengenal, mengerti, serta menghayati. Dengan meyakini kita dapat dengan
kuat berpegang teguh pada cara pandang yang kita yakini.
Mengabdi
Langkah
terakhir untuk berpandangan hidup yang baik adalah dengan megabdi. Mengabdi
merupakan suatu usaha untuk menyerahkan segenap keyakinan kita untuk suatu hal
yang kita yakini. Dengan mengabdi menjadikan kita lebih dekat atau bahkan
menjadi satu dengan hal yang kita yakini tersebut.
Contoh
Keyakinan/Kepercayaan
Contoh,
pada suatu masa, manusia pernah meyakini bahwa bumi merupakan pusat tata surya,
belakangan disadari bahwa keyakinan itu keliru.
LANGKAH-LANGKAH
BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK
Manusia
pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana kita
memeperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Ada
yang memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada
pula yang memperlakukaan sebagai penimbul kesejahteraan, ketentraman dan sebagainya.
Akan
tetapi yang terpenting, kita seharusnya mempunyai langkah-langkah berpandangan
hidup ini. Karena hanya dengan mempunyai langkah-langkah itulah kita dapat
memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan dan cita-cita
dengan baik. Adapun langkah-langkah itu sebagai berikut :
1.Mengenal
Mengenal
merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap
aktivitas hidupnya yang dalam jal ini mengenal apa itu pandangan hidup.
Tentunya kita yakin dan sadar bahwa setiap manusia itu pasti mempunyai
pandangan hidup, maka kita dapat memastikan bahwa pandangan hidup itu ada sejak
manusia itu ada, dan bahkan hidup itu ada sebelum manusia itu belum turun ke
dunia.
2.
Mengerti
Tahap
kedua untuk berpandangan hidup yang baik adalah mengerti. Mengerti disini
dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bemegara
kita berpandangan pada Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila
kita hendaknya mengerti apa Pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan
bemegara. Begitu juga bagai yang berpandangan hidup pada agama Islam. Hendaknya
kita mengerti apa itu Al-Qur'an, Hadist dan ijmak itu dan bagaimana ketiganya
itu mengatur kehidupan baik di dunia maupun di akherat.
3.Menghayati
Langkah
selanjutnya setelah mengerti pandangan hidup adalah menghayati pandangan hidup
itu. Dengan menghayati pandangan hidup kita memperoleh gambaran yang tepat dan
benar mengenai kebenaran pandangan hdiup itu sendiri.
Menghayati
disini dapat diibaratkan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya,
yaitu dengan memperluas dan mernperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup
itu sendiri. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka menghayati ini,
menganalisa hal-hal yang berhubungan dengan pandangan hidup, bertanya kepada
orang yang dianggap lebih tahu dan lebih berpengalaman mengenai isi pandangan
hidup itu atau mengenai pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan menghayati
pandangan hidup kita akan memperoleh mengenai kebenaran tentang pandangan hidup
itu sendiri.
4.
Meyakini
Setelah
mengetahui kebenaran dan validitas, baik secara kemanusiaan, maupun ditinjau
dari segi kemasyarakatan maupun negara dan dari kehidupan di akherat, maka
hendaknya kita meyakini pandangan hidup yang telah kita hayati itu. Meyakini
ini merupakan suatu hal untuk cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga
dapat mencapai suatu tujuan hidupnya.
5.
Mengabdi
Pengabdian
merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang
telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain.
Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaalnya. Sedangkan perwujudan
manfaat mengabdi ini dapat dirasakan oleh pribadi kita sendiri. Dan manfaat itu
sendiri bisa terwujud di masa masih hidup dan atau sesudah meninggal yaitu di alam
akherat.
6.Mengamankan
Mungkin
sudah merupakan sifat manusia bahwa bila sudah mengabdikan din pada suatu
pandangan hidup lalu ada orang lain yang mengganggu dan atau mayalahkannya
tentu dia tidak menerima dan bahkan cendemng untuk mengadakan perlawanan. Hal
ini karena kemungkinan merasakan bahwa dalam berpandangan hidup itu dia telah
mengikuti langkah-langkah sebelumnya dan langkah-langkah yang ditempuhnya itu
telah dibuktikan kebenarannya sehingga akibatnya bila ada orang lain yang
mengganggunya maka dia pasti akan mengadakan suatu respon entah respon itu
berwujud tindakan atau lainnya.
BAB
IX & X
MANUSIA
dan TANGGUNG JAWAB
Manusia
dan Tanggung Jawab.
1.
Pengertian
Manusia
Manusia
adalah makhluk sosial, dimana manusia juga tidak bisa hidup tanpa bantuan dari
orang lain. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang diciptakan tuhan, dan
merupakan makhluk paling sempurna di muka bumi ini. Manusia diciptakan oleh
tuhan YME memiliki akal dan pikiran, oleh karena itu manusia dapat menggunakan
akal dan pikirannya untuk melakukan suatu hal, dan pada akhirnya terciptalah
manusia yang adil yang menggunakan akal dan pikirannya dengan baik.
2.
Pengertian
Tanggung Jawab
Tanggung
jawab menurut kamus besar bahasa indonesia adalah keadaan wajib menanggung
sesuatu. Sehingga menurut kamus umum bahasa indonesia adalah berkewajiban
menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab
dan menanggung akibatnya.
Tanggung
jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang di
sengaja maupun tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti sebagai perwujudan
kesadaran akan kewajibannya.
Tanggung
jawab dapat dicontohkan seperti ini : Seorang mahasiswa mempunyai kewajiban
belajar, Bila belajar, maka hal itu berarti ia telah memenuhi kewajibannya.
Berarti ia telah bertanggung jawab atas bannya. Sudah tentu bagaimana kegiatan
belajar si mahasiswa, itulah kadar pertanggung jawabannya, Bila pada ujian ia
mendapat nilai A, B atau C itulah kadar pertanggung jawabannya.
Tanggung
jawab bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa
setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau
bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksa tanggung jawab itu. Dengan
demikian tanggung jawabitu dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi yang
berbuat dan dari sisi yang kepentingan pihak lain. Dari sisi si pembuat ia
harus menyadari akibat perbuatannya itu dengan demikian ia sendiri pula yang
harus memulihkan ke dalam keadaan baik. Dari sisi pihak lain apabila si pembuat
tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara
individual maupun dengan cara kemasyarakat.
Apabila
dikaji, tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau
dipenuhi, sebagai akibat perbuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari
perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain.
Kewajiban beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri atau
pihak lain.
Tanggung
jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab
karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannyaitu, dan menyadari pula
bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh
atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui
pendidikan, penyuluhan, keteladanan dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3.
Macam-macam
Tanggung Jawab :
Manusia
itu berjuang adalah memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak
lain. Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi
lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menyadari bahwa ada kekuatan
lain yang ikut menentukan, yaitu kekuasaan Tuhan. Dengan demikian tanggung
jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya,
atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu :
v Tanggung
jawab terhadap diri sendiri.
Tanggung
jawab diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya
sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan
demikian bisa memecahkan penyelesaian masalahnya sendiri.
v Tanggung
jawab terhadap keluarga
Keluarga
merupakan masyarakat kecil dalam kehidupan kita. Keluarga terdiri dari
suami-istri, ayah-ibu, dan anak-anak dan juga orang lain yang menjadi anggota
keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung
jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
v Tanggung
jawab terhadap masyarakat.
Manusia
tidak dapat hidup sendiri, sesuai dengan keadaannya sebagai makhluk sosial.
Masyarakat yang satu harus memiliki tanggung jawab sama seperti tanggung jawab
masyarakat lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam kehidupan masyarakat.
Wajarlah apabila tingkah laku dan perbuatannya harus di pertanggung jawabkan
kepada masyarakat.
v Tanggung
jawab terhadap bangsa.
Tiap
individu adalah warga negara dari suatu negara. Dalam berpikir, bertindak, dan
bertingkah laku harus sesuai dengan norma yang dibuta oleh negara. Bila ada
perbuatan yang tidak sesuai, maka ia harus mempertanggung jawabkannya.
v Tanggung
jawab terhadap tuhan.
Tuhan
mencipatakan manusia bukan tanpa tanggung jawab. Manusia dalam kehidupannya
mempunya tanggung jawab langsung kepada tuhannya. Sehingga tindakan manusia
tidak bisa lepas dari hukumman-hukuman tuhan yang dituangkan dalam berbagai
kitab suci. Manusia yang melanggar akan mendata dosa dan hukuman langsung dari
tuhan setelah ia wafat nanti.
4.
Pengabdian
dan Pengorbanan
Pengabdian
adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai
perwujudan kesetiaan, cinta kasih , kasih sayang, hormat,atau satu ikatan dan
semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa
tanggungjawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi
kebutuhan. Hal itu berarti mengabdi kepada keluarga.
Pengabdian
kepada agama atau kepada Tuhan terasa menonjolnya seperti yang dilakukan oleh
para biarawan dan biarawati. Pada umumnya mereka itu adalah orang-orang yang
terjun diladang Tuhan karena kesadaran moralnya, karena panggilan Tuhan. Mereka
meninggalakan keluarga dan tidak akan berkeluarga.
Pengabdian
terhadap negara dan bangsa yang juga menyolok antara lain dilakukan oleh
pegawai negri yang bertugas menjaga mercu suar di pulau yang terpencil. Mereka
bersama keluarganya hidup terpencil dari masyarakat ramai. Sementara itu setiap
hari tiupan angin kencang dari laut tidak pernah berhenti, apalagi bila terjadi
badai. Mereka bersunyi diri dalam pengabdian diri demi keselamatan kapal yang
lalu lalang. Kesenangan yang dapat dirasakan oleh pegawai negri dikota tidak
dapat dirasakan, mungkin sekali-sekali bila mereka memperoleh cuti.
5.
Pengorbanan
Pengorbanan
berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga
pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian
pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak
mengandung pamrih suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang
tulus ikhlas semata-mata.
Pengorbanan
adalah pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas
semata-mata. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan
diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada
transaksi, kapan saja diperlukan.
Pengorbanan
merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda,
pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan
secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan
saja diperlukan.
Pengabdian
lebih banyak menunjuk kepada perbuatan sedangkan, pengorbanan lebih banyak
menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga,
biaya, waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan belum tentu menuntut
pengabdian.
DAFTAR
PUSTAKA
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar