Senin, 10 Juli 2017

softskill : review film


Synopsis      
Little Miss Sunshine menceritakan tentang sebuah disfunctional family yang terdiri dari sang ayah, Richard Hoover, seorang pembicara motivasi yang gagal, sang ibu, Sheryl Hoover, seorang istri dan ibu rumah tangga biasa yang berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan keluarganya. Lalu ada Dwayne, putra Sheryl dari suami pertamanya yang memilih untuk melakukan puasa bicara yang sudah berlangsung selama 9 bulan. Dwayne memiliki adik perempuan kecil, Olive yang periang, polos dan sekaligus terobsesi dengan berbagai kontes ratu kencantikan. Dan dua yang terakhir adalah ayah Richard, Grandpa Edwin seorang kakek nyentrik dan mesum yang gemar bicara kotor serta pencadu narkoba dan yang terakhir adalah Frank Ginsberg, adik Sheryl yang juga seorang homoseksual yang baru saja sembuh dari usaha bunuh diri, setelah mengalami depresi yang cukup parah karena kehilangan kekasih prianya.

Semua karakter ini berkumpul dalam sebuah perjalanan darat untuk mengantar Olive untuk mengikuti sebuah kontes kencantikan Little Miss Sunshine dengan menggunakan sebuah mobil VW kuning tua mereka yang bermasalah. Kelucuan, kekonyolan dan kebersamaan menghiasi perjalanan mereka. Perjalanan ini ternyata juga membawa sebuah perubahan yang sangat berarti dalam mempererat hubungan mereka untuk menjadi keluarga yang lebih baik.

Terapi Yang digunakan
Seperti yang sudah dituliskan pada synopsis film the little miss sunshine di atas, kita bisa mengetahui seperti apa kehidupan keluarga Richard. Keluarga Richard berisikan anggota keluarga yang memiliki berbagai macam perbedaan sifat, dan keluarga Richar bisa dibilang sebagai keluarga yang crowded, dan komunikasi yang terjalin pada keluarga Richard pun tidak terjalin dengan baik. Di dunia nyata banyak keluarga-keluarga yang mengalami problem seperti itu, tentu masalah seperti itu harus diatasi sebelum semakin parah. Keaadan keluarga seperti keluarga Richard dapat ditangani dengan memakai terapi keluarga.
Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga (Gurman, Kniskern & Pinsof, 1986).  Teori keluarga memiliki pandangan bahwa keluarga adalah fokus unit utama. Terapi keluarga sering dimulai dengan fokus pada satu anggota keluarga yang mempunyai masalah. Tujuan umum terapi keluarga adalah meningkatkan komunikasi karena keluarga bermasalah sering percaya pada  pemahaman tentang arti penting dari komunikasi (Patterson, 1982). Terapi keluarga mengajarkan penyelesaian tanpa paksaan, mengajarkan orang tua untuk menetapkan kedisiplinan pada anak-anak mereka, mendorong tiap anggota keluarga untuk berkomunikasi secara jelas satu sama lain, mendidik anggota keluarga dalam prinsip perubahan perilaku, tidak menekankan kesalahan pada satu anggota akan tetapi membantu anggota keluarga apakah harapan terhadap anggota yang lain masuk akal.

Hasil Terapi

            Hasil dari terapi yang mereka lakukan berhasil. Dengan adanya banyak kejadian kejadian yang mereka alami, akhirnya keluarga mereka menjadi untuh kembali dan rukun. Mereka pun dapat menerima kekurangan dan kelebihan dari masing masing anggota sama lain. berawal dari keluarga yang tidak rukun hingga menjadi keluarga yang rukun bahkan saling menopang satu sama lain.

Selasa, 30 Mei 2017

LOGO THERAPY (yang buka blogg saya "NO COPAS COPAS")

LOGO THERAPHY






Disusun oleh :
Assyifa Caesara V (11514752)
Haezah Nur S        (14514666)
Marlina Putri U     (16514416)
Rindang Sekar P     (19514428)
Kelas : 3PA19









FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016/2017









1.       Sejarah Logotherapy
Logoterapi diperkenalkan oleh Viktor Frankl, seorang dokter ahli penyakit saraf dan jiwa (neuro-psikiater). Viktor E. Frankl dilahirkan di Wina, Austria pada tanggal 26 Maret 1905. Logoterapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan juga rohani (spirituality), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/ psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.Logoterapi dilandasi keyakinan bahwa manusia adalah berjuang untuk menemukan makna dalam kehidupan seseorang yang utama, yang paling kuat memotivasi dan pendorong dalam manusia. Tujuan hidup dan makna hidup konstruksi muncul dalam tulisan-tulisan logoterapi Frankl dengan hubungan atara  vakum eksistensial dan kemauan untuk makna, serta orang lain yang telah berteori tentang logoytherapy dan didefinisikan secara psikologis yang positif.

2.       Prinsip – prinsip Dasar Logotherpy
Konsep Frankl ini didasarkan pada premis bahwa kekuatan motivasi utama dari seorang individu adalah untuk menemukan makna hidup. Berikut merupakan prinsip prinsip dasar logoterapi:
a.    Kehidupan memiliki makna dalam keadaan apapun, bahkan yang paling menyedihkan.
b.    Motivasi utama kami untuk hidup adalah keinginan kita untuk menemukan makna hidup.
c.    Kami memiliki kebebasan untuk menemukan makna dalam apa yang kita lakukan, dan apa yang kita alami, atau setidaknya dalam berdiri kita ambil ketika dihadapkan dengan situasi penderitaan berubah
3.       Ajaran Logotherapy
Ketiga asas itu tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi manusia dan makna hidup sebagai berikut.
a. Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun, kehidupan ini selalu mempunyai makna.
b.    Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
c.    Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya.
d.  Hidup bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga  nilai kehidupan, yaitu nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai penghayatan (eksperiental values) dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values).

4.       Tujuan Logoterapi
a.  Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya.
b.   Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan.
c.   Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.

5.       Pandangan Logoterapi Terhadap Manusia
a.  Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.
b.   Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.
c.  Dengan adanya dimensi noetic ini manusia mampu melakukan self-detachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.
d.   Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.

6.       Logoterapi Sebagai Teori Kepribadian
Kerangka pikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut:
Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (meaningful life) dan ganjaran  (reward) dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness). Di lain pihak mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless). Selanjutnya akibat dari penghayatan hidup yang hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik neurosis) mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism) dan konformis (conformism).




Minggu, 30 April 2017

softskill : psikoterapi (tugas 2)

PSIKOTERAPI DALAM PSIKOANALISA MENGANALISA PSIKOPATOLOGI BERDASARKAN PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL



Disusun oleh :
Assyifa Caesara V (11514752)
Haezah Nur S        (14514666)
Marlina Putri U     (16514416)
Rindang Sekar P     (19514428)
Kelas : 3PA19










FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016/2017








Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran. Psikoterapi merupakan proses interaksi formal antara dua pihak atau lebih, yaitu antara klien dengan psikoterapis yang bertujuan memperbaiki keadaan yang dikeluhkan klien. Seorang psikoterapis dengan pengetahuan dan ketrampilan psikologisnya akan membantu klien mengatasi keluhan secara profesional dan legal.
Psikopatologi adalah gangguan pada dialektika antara realitas eksternal dengan dunia internal individu, yang mengakibatkan munculnya gejala-gejala ketidak sejahteraan atau ketidak bahagiaan, secara kognitif dan/atau afektif, dan/atau konatif dan/atau fisiologis, baik pada tingkatkan yang berat; dan dapat berlangsung dengan relatif singkat sampai dengan jangka waktu yang lama seperti halnya tingkatan mental, daerah pikiran juga memiliki tiga jenis, yakni: id, ego, dan superego. Mereka menempati pos masing-masing dalam kapasitas mental. Id adalah bagian dari keinginan yang tidak disadari, letaknya di alam bawah sadar. Id berisi segala hal yang bersifat kesenangan biologis sejak bayi lahir seperti insting-insting, contohnya rasa lapar. Id sebagai pusat energi, hanya mengenal penghayatan subjektif dan bekerja sesuai prinsip kenikmatan atau prinsip primer yang tidak mengenal logika obyektif, rasional, dan logis. Cenderung harus dimanifeskan untuk mereduksi tegangan, maka itu ia bersifat primitif. Sedangkan ego bersifat keakuan, begitu selfish dan tumbuh sedari masa bayi. Untuk memudahkan pemahaman, pemyataan Freud patut disimak:  "Biasanya tak ada yang lebih kita percaya daripada perasaan terhadap diri kita sendiri, dari ego kita. Ego ini muncul pada kita sebajiai sesuatu secara otonom dan bersatu diberi tanda denganjelas dari yang lain. "Ego bertugas untuk berkomunikasi dengan dunia realitas karena id membutuhkan transaksi-transaksi kepada realitas ekstemal. Ego hanya bergerak berdasarkan kenyataan dan beroperasi menurut prinsip sekunder, keluar dari batas moral yang diusung teguh manusia pada umumnya. Selain itu, prinsip superego adalah idealistik yang bertentangan dengan id dan ego. la menggambarkan yang ideal bukan yang nyata.
Freud mengemukan suatu prinsip yang disebut sebagai prinsip motivasional atau dinamika untuk menjelaskan suatu dorongan dalam tindak-tanduk manusia. Dorongan adalah suatu energi-energi fisikal yang berasal dati insting-insting yang didapat dalam asupan biologis manusia. lnsting didefinisikan sebagai perwujudan psikologis dari suatu rangsangan somatik dalam yang dibawa sejak lahir. Perwujudan psikologisnya disebut has rat, sedangkan rangkaian jasmaniahnya dari mana hasrat itu muncul disebut kebutuhan. Insting mempunyai empat ciri khas, yaitu sumber, tujuan, objek, dan impetus. Sumber didefinisikan sebagai kondisi jasmaniah. Tujuannya ialah menghilangkan perangsangan jasmaniah. Seluruh kegiatan yang menjembatani antara munculnya hasrat dan pemenuhannya termasuk objek. Misalnya, jika individu ingin melakukan hubungan intim, ia terlebih dahulu melakukan beberapa aktivitas sebelum melepas rangsangan seksual itu. Sedangkan impetus insting adalah kekuatan yang ditentukan oleh intensitas kebutuhan yang mendasarinya. Ketika impuls masturbasi begitu kuat, sampai dititik mana kondisi psikologis mengalami ketegangan, maka kekuatan insting menjadi lebih besar.
Kepribadian digerakkan oleh insting hidup atau eros dan insting mati atau thanatos. Eros menjamin tujuan mempertahankan individu dalam perkembangan ras, seperti aktivitas makan, minum, dan seks. Bentuk energinya disebut libido. Libido sendiri adalah stimulasi umum yang menyenangkan dan tidak hanya terbatas pada kenikmatan seksual. Karenanya, insting hidup atau eros ini mempunyai dua bentuk lagi yaitu insting ego, yang menggambarkan kelaparan akan makanan dan insting seksual yang melambangkan kelaparan seksual atau kebutuhan cinta. Thanatos bersifat merusak, baik pada diri sendiri atau dunia ekstemal. Tujuan insting mati bagi Freud adalah mengembalikan organisme kepada kondisi inorganik. Karena kondisi inorganik terakhir adalah kematian, maka tujuan terakhir dari insting mati adalah pengrusakan diri. lnsting mati mempunyai dua bentuk; agresi dan kebencian.


lndividu atau pribadi akan mendapatkan kecemasan bila ego tak dapat menanggulanginya. Karenanya, kemudian Freud membagi tiga bentuk kecemasan dari hasil reaksi ego dengan dialektika eksternal, yakni kecemasan realitas, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral.
a.       Kecemasan realitas
Mengacu pada perasaan yang tidak menyenangkan serta tidak spesifik pada suatu bahaya yang mungkin terjadi. Contohnya ketika dua pasang individu yang berdua-duaan di daerah baduy yang asing, mereka akan mengalami kecemasan, takut-takut ada orang adat melihat dan mereka akan dipukul beramai-ramai.
b.      Kecemasan neurotik
Kecemasan ini adalah ketakutan yang didasarkan atas aktivitas insting yang melewati batas dan tidak terkendali. Namun ketakutan ini bukan tertuju kepada insting itu sendiri, namun atas hukuman yang akan didapat. Sebagai contoh kompleks Oedipus ketika anak laki-laki takut penisnya akan dikebiri oleh sang ayah jika terjadi percintan dengan ibu.
c.       Kecemasan moral.
Kecemasan ini bentuk rasa takut kepada hati nurani. Orang-orang yang begitu menjunjung tinggi norma, merasa bersalah ketika ia melakukan perbuatan keliru atau sekadar bemiat melakukan. Kecemasan ini mempunyai akar dari masa silam ketika individu pernah mendapat hukuman karena melakukan perbuatan melanggar norma. '
Pada dasamya fungsi kecemasan seperti pengawas jikalau ego tidak bisa menanggulangi bahaya luar. Manakala kecemasan ini tidak dapat diredam dengan cara-cara yang efektif, akan timbul apa yang disebut trauma. Hal ini membuat Freud beranggapan bahwa Psikopatologis sendiri dapat dianalisis berdasarkan perkembangan psikoseksual seseorang. Karena manusia memiliki ketiga prinsipil yang saling berhubungan. Hanya saja ada manusia yang bisa melewati tahap perkembangan psikoseksual berdasarkan tiga prinsipil tersebut dan ada pula yang tidak





DAFTAR PUSTAKA


Minggu, 02 April 2017

tugas 1 psikterapi

SEJARAH MITOLOGI YUNANI PSYCHE
PSIKOTERAPI

Assyifa Caesara V (11514752)
Haezah Nur S (14514666)
Marlina Putri U (16514416)
Rindang Sekar P (19514428

SEJARAH MITOLOGI YUNANI PSYCHE

Psyche, yang berarti jiwa dalam bahasa Yunani dan Latin. Psyche adalah putri bungsu seorang maharaja. Kecantikan lahir batinnya membuat banyak manusia dari segenap penjuru dunia rela menempuh perjalanan panjang sekedar untuk mencuri pandang dan mengaguminya. Psyche ini sangat cantik sampai-sampai di daerahnya orang-orang menjadi berhenti menyembah Afrodit dan mulai menyembah Psyche sebagai dewi kecantikan
Afrodit marah karena kecntikkannya tersaingi oleh psyche. Afrodit kemudian memanggil cupid putranya. Afrodit meminta cupid untuk membuat psyche jatuh cinta kepada laki-laki terjelek didunia. Cupid langsung pergi menuruti perinth ibunya. Namun tugasnya gagal karena cupid terpanah oleh kecantikkan psyche
Beberapa tahun kemudian psyche tidak kunjung menikah padahal usianya sudah mencukupi untuk menikah. Cupid membuat Oracle berkata bahwa Psikhe tidak ditakdirkan untuk menikahi seorang manusia, melainkan Psikhe harus menikah dengan suatu makhluk yang tinggal di sebuah gunung..
Psyche dan Orangtuanya bersedih, karena menyangka Psyche ditakdirkan untuk menikah dengan seekor monster. Setelah perdebatan yang cukup panjang, Psyche akhirnya berhasil meyakinkan orangtuanya untuk merelakan putri bungsu mereka mengikuti jalan yang telah ditentukan oleh takdir.Psyche meninggalkan tempat tinggalnya.
Psyche kemudian pergi kegunung yang dimaksud. Ia terus berjalan sambil memberanikan diri, walaupun ia ketakutan. Kemudian datang dewa angin, dewa angina kemudian membawa psyche kesuatu tempat. Sebuah taman yang yang lapang dan di tengah tengahnya terdapat rumah yang sangat indah, kemudian ada yang berkata bahwa rumah tersebut adalah rumah untuk tempat tinggal Psyche, disana banyak pelayang yang tidak terlihat yang membatu psyche memenuhi kebuthn sehari harinya
Suatu malam psyche dihampiri oleh seorang laki-laki yang baik dan ramah. Dalam hati psyche berfikir apakah itu adalah monster yang menjadi jodohnya. Setelah malam itu psyche berhubungan dengan laki-laki tersebut. Namun dia tidak pernah melihat sosok laki-laki tersebut karena ia sealu bertemu disaat malam hari saat suasananya sanga gelap gulita. Psyche kemudian meminta kepada laki-laki tersebut untuk menampakkan wujudnya pada siang hari . namun laki-laki tersebut berkata “ jika kau melihat wujudku, maka saat itu juga kebahagiaan akan berakhir”
Psyche merindukan keluarganya, awalnya Cupid menolak tetapi akhirnya mengizinkan saudari-saudari Psikhe datang ke istana mereka. Ketika tahu keadaan Psikhe, saudari-saudarinya jadi iri. Mereka lalu berusaha membuat Psikhe dan suaminya berpisah, dengan harapan sang suami tak dikenal nantinya akan menikahi mereka.
Mereka memanas-manasi Psikhe. Menurut mereka, Psikhe harus tahu identitas suaminya, karena bisa saja suaminya adalah monster, seorang monster tentu tidak ingin wajahnya dilihat. Mereka juga menyuruh Psikhe membunuh suaminya itu jika memang monster.
Malam itu, Psikhe benar-benar melakukan yang dikatakan oleh kakak-kakaknya. Ia membawa sebuah lentera dan sebuah belati. Awalnya ia ragu, namun kata-kata kakaknya terus terngiang dan ia pun menyalakan lentera.
Ketika cahaya lentera menyinari wajah lelaki tersebut, Ia langsung menyadari ternyata yang selama ini bersamanya adalah cupid, Cupid sang dewa cinta. Psikhe pun makin mencintai Cupid. Namun karena kaget melihat Cupid, Psikhe tidak sengaja menumpahkan minyak dari lenteranya ke badan Cupid.Cupid merasa sakit sekaligus marah akibat perbuatan Psikhe itu. Cupid pun langsung terbang dan meninggalkan Psikhe, yang hanya bisa menangis sendirian menyesali perbuatannya.
Lama menunggu cupid tak kunjung datang. Psyche pergi menjelajahi yunani untuk mencari keberadaan suaminya. Psikhe terus berjalan hingga ia memasuki Kuil Demeter. Di dalam kuil itu terdapat banyak biji-bijian berceceran sehingga kuil itu nampak berantakan. Sambil bersedih Psikhe mengumpulkan biji-bijian itu sehingga kuil itu tidak lagi berantakan. Demeter melihat apa yang dilakukan Psikhe. Sang dewi pun berbicara padanya, "Kau pantas mendapatkan kebahagiaan wahai gadis cantik. Jika kau mencari Cupid, maka sebaiknya kau menemui Ibunya, Afrodit sang dewi kecantikan, dan berdoa memohon maaf."
Psikhe sangat senang mendapat perhatian dari Demeter, maka ia segera menuju Kuil Afrodit. Di sana, Afrodit yang masih kesal dengan Psikhe menemuinya. Gadis itu meminta maaf kepada Afrodit. Namun sang dewi berkata bahwa untuk menebus dosanya, ia harus berhasil melakukan tugas-tugas yang akan Afrodit diberikan. Psikhe pun setuju.
Sebagai tugas pertama, Afrodit telah menyiapkan setumpuk tinggi biji-bijiann yang terdiri dari tiga jenis biji. Psikhe ditugaskan untuk memisahkan ketiga biji-bijan itu ke dalam tumpukan yang berbeda sebelum malam berakhir.Dengan putus asa Psikhe melakukan tugas yang mustahil itu. Tapi tiba-tiba datanglah sekoloni semut yang kemudian ikut membantu Psikhe. Dengan bantuan semut-semut, tugas mustahil itu pun akhirnya berhasil ia selesaikan sebelum pagi.
 Afrodit yang melihat keberhasilan Psikhe menjadi sangat kesal. Tugas berikutnya adalah Psikhe harus mengambil wol, dari domba-domba emas yang merumput di pinggir sungai. Ketika Psikhe menuju tempat tersebut, ia dihentikan oleh sekelompok nimfa yang memperingatkannya, "Wahai gadis cantik! kamu jangan mendekati domba domba itu! mereka sangat ganas! yang perlu kamu lakukan hanyalah menunggu hingga siang hari ketika matahari bersinar terik. Mereka akan berteduh di bawah pohon itu.Psikhe mengerti apa yang harus ia lakukan. ia berterima kasih kepada para nimfa dan pergi mengamati para domba emas. Ketika domba-domba itu selesai berteduh. Wol emas mereka tersangkut di batang pohon dan semak-semak tempat mereka berteduh. Psikhe pun tinggal mengambil wol-wol itu dari sana.

Semakin Psikhe berhasil, semakin sulit pula tugas yang diberikan oleh Afrodit. Psikhe harus mengambil air mematikan dari sungai Stix. Dia mengira kali ini dia akan mati, namun tiba-tiba datang seekor elang kiriman Zeus yang mengambilkan air itu untuknya. Afrodit jadi makin kesal, dan untuk tugas terakhir Afrodit berkata, "Karena kau, putraku Cupid menjadi nakal. Dia menjadi tidak penurut lagi. Aku sampai stres memikirkannya, dan kecantikanku pun berkurang. Sekarang kamu harus pergi ke dunia bawah, temui Persefone dan mintakan kepadanya sedikit kecantikannya."
Psikhe bingung bagaimana memasuki dunia bawah dan kembali hidup-hidup. Psikhe berpikir tak ada lagi yang bisa dia lakukan, dia pun naik ke menara dan berniat bunuh diri. Tetapi begitu sampai di menara, bangunan tersebut malah berbicara pada Psikhe dan memberitahunya cara melaksanakan tugasnya.
Setelah mendapat petunjuk, Psikhe akhirnya masuk ke dunia bawah. Ia mengikuti jalan yang diberitahukan oleh sang menara. Psikhe Membayar Kharon satu koin untuk mengantarnya menuju gerbang dunia bawah. Psikhe Melemparkan satu roti pada Kerberos sehingga ketiga kepala mereka berebutan memakannya. ia juga menolak berbagai permintaan yang diajukan oleh para arwah disana.
Ketika sampai di istana Hades, Psikhe melakukan tugasnya yaitu meminta kotak kecantikan pada Persefone. Sesuai petunjuk yang dia dapat, Psikhe menolak untuk duduk di kursi, dan dari semua makanan yang ada di atas meja, dia hanya memakan roti. Persefone mengambil sebuah kotak dan memberikannya pada Psikhe. Setelah mendapat kotak itu, Psikhe keluar dengan hati-hati dari dunia bawah, dia memberi lebih banyak kue pada Kerberos dan membayar lagi pada Kharon. Pada akhirnya Psikhe berhasil sampai di dunia atas.
Namun sekali lagi Psikhe merasa penasaran. Dia ingin mendapatkan sedikit kecantikan dari kotak yang dia bawa. Dia berpikir tentu nanti Cupid akan senang kalau dia menjadi lebih cantik. Psikhe melupakan peringatan dari sang menara dan membuka kotak itu. Begitu Psikhe membukanya, kutukan tidur langsung keluar dari kotak itu dan membuat Psikhe tertidur abadi.
Sementara luka pada bahu Cupid telah sembuh dan Cupid sendiri telah memaafkan Psikhe bahkan Cupid kini sangat merindukan Psikhe itu.Cupid mencari Psikhe dan menemukannya sedang tertidur dalam kutukan. Cupid mengampulkan kutukan itu dan memasukannya lagi ke dalam kotak. Cupid lalu menicum bibir Psikhe. Berkat ciuman dari seorang dewa, Psikhe akhirnya bisa terbangun lagi, dan dia sangat bahagia melihat Cupidnya.
Cupid lalu terbang ke hadapan Zeus dan memohon supaya Psikhe dijadikan abadi. Zeus setuju dan menyuruh Hermes membawa Psikhe ke Olimpus. Begitu sampai di Olimpus, Psikhe diberi minuman para dewa, ambrosia, dan menjadi abadi. Kini Cupid dan Psikhe bisa bersama dalam kebahagiaan. Cupid and Psikhe menikah dan memiliki anak bernama Hedone ("kesenangan"). Afrodit sendiri telah memaafkan Psikhe bahkan dia ikut menari dalam pesta pernikahan mereka.

Minggu, 08 Januari 2017

Softskill Kepuasan Kerja(8, Januari 2017)


NAMA             : Rindang Sekar Pangayom

NPM                : 19514428

KELAS            : 3PA19

TUGAS            : SOFTSKILL (“Teori Kepuasan Kerja dan Contoh Kasus”)

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Kedudukan sumber daya manusia di dalam perusahaan sangat penting. Oleh karena itu dibutuhkan manajemen sumber daya manusia agar pengelolaan sumber daya manusia dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan perusahaan. Pada dasarnya bahwa seseorang dalam bekerja akan merasa nyaman dan tinggi kesetiaannya pada perusahaan apabila memperoleh kepuasan kerja sesuai dengan apa yang diinginkan.

Kepuasan kerja itu sendiri sebenarnya mempunyai makna apa bagi seorang pekerja? Ada dua kata yaitu kepuasan dan kerja. Kepuasan adalah sesuatu perasaan yang dialami oleh seseorang, dimana apa yang diharapkan telah terpenuhi atau bahkan apa yang diterima melebihi apa yang diharapkan. Sedangkan kerja merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan dengan memperoleh pendapatan atau kompensasi dari konstribusinya kepada tempat pekerjaannya. Kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individu dan memiliki tingkat kepuasan yang berbedea-beda. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini Nampak dari sikap karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu di lingkungan kerjanya.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Pengertian Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi mempunyai sikap positif terhadap pekerjaanya, dan seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya akan mempunyai sikap negatif terhadap pekerjaan tersebut. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaanya. Hal ini terlihat melalui sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan pekerjaannya. Oleh karena itu, kepuasan dalam bekerja akan membuat karyawan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya, sehingga prestasi kerja dengan mudah dapat tercapai.

Secara definitif, terdapat berbagai pendapat mengenai kepuasan kerja menurut beberapa ahli, yang dapat dilihat berikut ini:

1.      Menurut Robbins (2002) : kepuasan kerja adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. 

2.      Menurut Davis (1996) : kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan karyawan.

3.      Menurut Luthans (2006) : kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang senang atau emosi positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang.

4.      Menurut Kreitner (2005) : kepuasan kerja adalah respons emosional terhadap pekerjaan seseorang.

5.      Menurut Handoko (2002) : kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana karyawan memandang pekerjaannya.

Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosional seseorang yang bisa terlihat melalui tingkah laku, dan sikap baik yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap pekerjaan yang mereka lakukan.

B.     Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

Menurut Robbins (2002), kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain : pekerjaan yang menantang, penghargaan, kondisi lingkungan kerja dan hubungan interpersonal.

1.      Kerja yang menantang secara mental. Pada umumnya individu lebih menyukai pekerjaan yang memberi peluang untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan serta memberi beragam tugas, kebebasan dan feedback tentang seberapa baik pekerjaanya. Hal ini akan membuat pekerjaan lebih menantang secara mental. Pekerjaan yang kurang menantang akan menciptakan kebosanan, akan tetapi yang terlalu menantang juga dapat menciptakan frustasi dan perasaan gagal. 

2.      Penghargaan yang sesuai. Karyawan menginginkan sistem bayaran yang adil, tidak ambigu, dan selaras dengan harapan karyawan. Saat bayaram dianggap adil, dalam arti sesuai dengan tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individual, dan standar bayaran masyarakat, kemungkinan akan tercipta kepuasan.

3.      Kondisi kerja yang mendukung. Karyawan berhubungan dengan lingkungan kerjanya untuk kenyamanan pribadi dan kemudahan melakukan pekerjaan yang baik. Yang termasuk didalamnya seperti tata ruang, kebersihan ruang kerja, fasilitas dan alat bantu, temperatur, dan tingkat kebisingan.

4.      Kolega yang suportif. Individu mendapatkan sesuatu yang lebih daripada uang atau prestasi yang nyata dari pekerjaan tetapi karyawan juga memenuhi kebutuhan interaksi sosial. Perilaku atasan juga merupakan faktor penentu kepuasan yang utama. Oleh karena itu, perlu diterapkan rasa saling menghargai, loyal dan toleran antara satu dengan yang lain, sikap terbuka, dan keakraban antar karyawan.

Menurut Hasibuan (2003), kepuasan kerja dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain :

1.      Balas jasa yang adil dan layak;

2.      Penempatan yang tepat dan sesuai dengan keahlian;

3.      Suasana dan lingkungan pekerjaan;

4.      Berat ringannya pekerjaan;

5.      Peralatan yang menunjang;

6.      Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya.

Sedangkan menurut Rivai (2006), faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua kelompok. yaitu faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik adalah faktor yang berasal dari diri karyawan dan dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai bekerja di tempat pekerjaannya. Sedangkan faktor ekstrinsik menyangkut hal-hal yang berasal dari luar diri karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan lain, sistem penggajian dan sebagainya.

C.    Teori Tentang Kepuasan Kerja

1.      Teori Ketidaksesuaian (Discrepancy Theory)

Teori ketidaksesuaian mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara sesuatu yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan sehingga apabila kepuasaanya diperoleh melebihi dari yang diinginkan maka orang akan menjadi lebih puas lagi, sehingga terdapat discrepancy, namun discrepancy yang positif.

2.      Teori Keadilan (Equity Theory)

Orang akan merasa puas atau tidak puas tergantung pada ada atau tidaknya keadilan dalam suatu situasi, khususnya situasi kerja. Komponen utama dalam teori keadilan adalah input, hasil, keadilan dan ketidakadilan. Input adalah faktor bernilai bagi karyawan yang dianggap mendukung pekerjaannya, seperti pendidikan, pengalaman, kecakapan, jumlah tugas, dan peralatan atau perlengkapan yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaannya. Hasilnya adalah sesuatu yang dianggap bernilai oleh seorang karyawan yang diperoleh dari pekerjaanya, seperti gaji/upah, keuntungan sampingan, simbol, status, penghargaan dan kesempatan untuk berhasil atau aktualisasi diri.

3.      Teori Dua Faktor (Two Factor Theory)

Karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors, dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators. Satisfier atau motivators adalah faktor-faktor atau situasi yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari pekerjaan yang menarik penuh tantangan, kesempatan untuk berprestasi, kesempatan untuk memperoleh penghargaan, dan promosi. Dissatisfier adalah faktor-faktor yang menjadi sumber ketidakpuasan yang terdiri dari gaji/upah, pengawasan, hubungan antar pribadi, kondisi kerja dan status. Jika tidak terpenuhi, maka karyawan tidak akan puas.

D.    Contoh Kasus

Agung adalah karyawan yang dipercayai oleh atasannya untuk menjadi leader yang menangani departemen produksi pada suatu perusahaan. Atasan Agung menganggap bahwa leader yang sebelumnya kurang bagus kinerjanya di departemen produksi tersebut, maka atasannya melakukan pergantian leader. Dalam 3 bulan Agung mejalankan tugasnya sebagai leader dengan baik, kegiatan produksi di perusahan tersebut berjalan dengan baik. Atasan Agung pun memuji kinerja Agung dan memberikan bonus untuk Agung.

E.     Analisis

Dari contoh kasus di atas dapat dikatakan bahwa Agung telah merasakan kepuasan kerja. Agung harus membuktikan kinerjanya yang bagus sebagai leader di departemen produksi untuk membangun kepercayaannya pada atasannya. Dan hasilnya pun memuaskan, 3 bulan menjadi leader kinerja Agung sangat bagus dan atsannya pun memujinya serta memberikannya bonus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: BPFE
Rivai, Veithzal. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.